Karya – Karyaku

Menuju Islam Yang Lebih Baik

Posted by: alwafiridho on: Juni 6, 2008

Rian nama pemuda ini, dia tinggal di tempat yang kumuh, dia ingin sekali merubah hidupnya. Dia memutuskan untuk pergi ke kota untuk merantau mencari pencahariaan.

Sesampainya di kota dia di pekerjakan sebagai PSK, tetapi dia melayani para pria – pria yang menyukai sesmam jenisnya , lama kelamaan ternyata dia juga ikut- ikutan menyukai sesama laki – lakinya.

Setiap malam dia bisa melayani para lelaki yang homoseksual sebanyak 5 orang, setiap hari dia puang pukul 03.00 dinihari, katanya supaya orang tidak tahu kalau dia seorang PSK tersebut

Suatau malam, saat dia pulang kerja, ada sosok yang mengagetkannya dengan pakaian jubah putih dan peci putih. ternyata sosok itu adalah seorang ulamam yang sedang berjalan menuju masjid untuk melaksanakan sholat tahajjud.

“Hey…siapa kamu?” bentak Rian

“Aku ini mau pergi ke masjid menunaikan shalat” kata ulama

“Ah….kamu pasti setan?” dia membentak ulama itu lagi, dalam keadaan mabuk

“Apakah kamu seorang perempuan..??” tanya ulama

“Nggak.., aku ini lki – laki.” kata Rian dengan gaya jantannya

“Kenapa pakaianmu seperti seorang wanita?” kata ulama penasaran

“Oh, ya, aku memakai pakaian ini karena uangg…” kata Rian mengipaskan duit di depan ulama itu

Kemudian ulama itu hanya terdiam dan berzikir sambil melanjutkan perjalanannya menuju masjid.

Setiap malam saat pergi ke masjid ulama tersebut menemui dia di tempat yang sama, tapi baru kali ini dia berbincang dengan pria itu.

Pagi hari, setelah malam kemarin bertemu dengan sosok ulama yang mengagetkannya, dia berjalanan menuju warung, di tengah perjalannan dia bertemu dengan sang ulamai tu lagi.

“Sebenarnya siapa sih kamu?” tanya Rian penasaran

“Saya ini seorang ualama yang diutus untuk memperbaiki kelakuan kamu saat sekarang ini” kata ulama

“Oh, memangnya kenapa dengan saya?” tanya Rian

“Allah menurunkan Ilhamnya kepada saya, ada pemuda yang menyukai sesama jenisnya, padahal dia dipakasa dan akhirnya dia terjerumus ikut- ikutan menjadi homoseksual” kata ulama menuturkan

“Trus…??” Rian semakin penasaran

“Pemudai tu adalah kamu, kamu saya akan rubah menjadi anak yang alim bisa berdakwah dimana- mana” ulama menjelaskan.

“Tahukah kamu apa yang terjadi pada zaman Nbi Luth A.S?” sambung ulama menanyakan kejadian zaman Nabi Luth

“Nggak taut uh, soalnya sya belum pernah baca” kata Rian

“Baegini, dulu ada namanya masyarakat Sadum mereka adalah masyarakat yang rendah tingkat moralnya,rusak mentalnya, tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemaksiatan dan kemungkaran bermaharajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta milik menrupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat menjadi kuasa sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseks {liwat} di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya, seperti kamu ini”cerita ulama tersebut

“Trus???” Rian berkata

“Seorang pendatang yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari diganggu oleh mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jika ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan di antara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula. Allah kemudian menurunkan Nabi Luth A.S, Nabi Luth mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah meninggalkan kebiasaan mungkar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan syaitan.” Ulama menyambung ceritanya

“Apa yang terjadi selanjutnya ?” kata Rian penasaran

“Nabi Luth berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan yaitu melakukan perbuatan homoseks dan lesbian karena perbuatan itu bertentangan dengan fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung didalam penciptaan manusia menjadi dua jenis yaitu lelaki dan wanita. Tetapi mereka (masyarakat Sadum ) menentang hal tersebut, ternyata istri Nbi Luth juga ikut- ikutan dengan masyarakat Sadum, dia ternyata musuh dalam selimut, beliau memohon kepada Allah agar kepada kaumnya masyarakat Sadum diberi pengajaran berupa azab di dunia sebelum azab yang menanti mereka di akhirat kelak. Permohonan Nabi Luth dan doanya diperkenankan dan dikabulkan oleh Allah s.w.t., karena masanya telah tiba bagi azab Allah yang akan ditimpakan. Para malaikat berpesan kepada Nabi Luth dan keluarganya agar perjalanan ke luar kota jangan seorang pun dari mereka menoleh ke belakang” lanjut ulama itu

“Lalu???” tanya Rian semakin penasaran

“Nabi Luth keluar dari rumahnya sehabis tengah malam, bersama keluarganya terdiri dari seorang isteri dan dua puterinya berjalan cepat menuju keluar kota, tidak menoleh ke kanan maupun kekiri sesuai dengan petunjuk para malaikat yang menjadi tamunya.Akan tetapi si isteri yang menjadi musuh dalam selimut bagi Nabi Luth tidak tergamak meninggalkan kaumnya. Ia berada dibelakang rombongan Nabi Luth berjalan perlahan-lahan tidak secepat langkah suaminya dan tidak henti-henti menoleh ke belakang karena ingin mengetahui apa yang akan menimpa atas kaumnya, seakan-akan meragukan kebenaran ancaman para malaikat yang telah didengarnya sendiri. Dan begitu langkah Nabi Luth berserta kedua puterinya melewati batas kota Sadum, sewaktu fajar menyingsing, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya di bawah kaki rakyat Sadum, tidak terkecuali isteri Nabi Luth yang munafiq itu. Getaran itu mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu sijjil yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sadum berserta semua pemghuninya. Itulah kejadiannya” kata ulama

“Oh…, berarti aku harus gimana dong ?” kata Rian meminta saran

“Cepatlah kamu bertaubat” kata ulama menyuruh, sambil mengelus punggung Rian
Rian kemudian pergi ke rumah di kota, dia merenung, setelah sadar hidayah samapi ke hatinya, dia kemudian pergi ke rumah sang Ulama meminta petunjuk.
Setelah samapi dia rumah sang Ulama berbulan – bulan dia diajak mengaji diajar dakwah diajarkan tentang Islam lainnya. Setalah mahir berdakwah dan sebagainya ulama menyuruh dia pergi ke rumah orang tuanya di desa yang kumuh kemudian berpesan “Jadikan desamu yang dulu itu menjadi desa yang islamiyah, sekrang pergi kamu dari tempat inggalmu di kota, disana sudah banyak dosa yang menyebar”

Rian lalu pergi ke rumahnya, setelah samapi di sana rasa rindu yang tak dapat dibendung lagi, dia bersujud memohon ampun kepada orang tuanya.

Setelah lama di kampung itu dia memutuskan untuk mengajar ngaji mengkaji ilmu yang telah di berikan di rumah sang ulama, dia pemilih dalam hidupnya menjadi seorang da’i. Tetapi orang tuanya tidak setuju dia berkata “Rian, carilah pekerjaan lain yang penghasilannya tetap, kamu ini masih muda, nak” kata sang ibu.

Permintaan itu dapat dimengerti maklumlah dia berasal dari keluarga pemulung, ayahnya seorang pemulung sedangkan sang ibu hanya berdiam di rumah mengurus rumahnya.

Namun Rian terus melangkah, layer sudah terlanjur terkembang, pantang untuk digulung untuk mundur.

“Saya ingin menegakkan islam dimanapun, da ingin mengamalkan ilmu yag telah aku pelajari dai rumah ulama yang membuat aku menjadi sadar” Rian menjelaskan. Ia yakin Allah akan membukakan pintu – pintu rezqi yang lain. Alhamdulillah akhrinya kedua orang tuanya bias mengerti.

Tinggalkan Balasan