Posted by: alwafiridho on: Juni 18, 2008
Keinginan anak ini tidak bisa dihalangi lagi, setiap hari selalu menulis dan menulis dan mempublikasikan hasilnya di www.kemudian.com . Agar dia bisa menjadi yang terbaik dan bisa menggapai cita–cita menjadi penulis hebat.
Sepulang sekolah dia selalu meluangkan waktunya pergi ke warnet dan duduk di bangku komputer untuk menulis karya–karya terbaiknya. Tetapi kesalahnnya selalu dalam mengetik cerita-ceritanya karena kelalaian dalam mengedit tulisan. Saat menuliskan cerita yang berjudul “Menggapai Cita–Cita” dia berharap ceritanya kali ini bisa diterima di dunia, mengetik dengan lebih baik lagi.
Saat menuliskan cerita itu, orang tuanya marah besar karena mereka tidak setuju dengan keinginannya sebagai penulis, orang tuanya menginginkan anak itu sebagai pegawai negeri. Maklumlah dia berasal dari keluarga yang kelas bawah yang ingin berkehidupan mewah.
“Eh, kamu mau kemana,” bentak ibunya.
“Mau ke warnet bu…” kata anak itu
“Mau ngapain kamu kesana mau nulis di kemudian.com lagi ? tidak usah, cepat masuk,” ibunya marah.
“Tapi, ceritaku belum selesai,” katanya.
“Tidak usah…ayo masuk!” bentak ibunya
Dia kemudian berencana ingin menghibur ibunya dengan menuliskan seuntai puisi, padahal dia belum menyelesaikan ceritanya.
Selang dua hari puisi untuk ibunya sudah selesai, kebetulan ada lomba baca puisi di kampungnya, dia maju ke atas panggung membacakan puisi berjudul ‘IBU’.
“Assalamualaikum…, bapak dan ibu yang ada di sini…” dia menyapa semua orang yang ada di lapangan, sedangkan ibunya duduk di bangku belakang.
***
Ibu…
Engkaulah payungku
Payung yang selalu melindungiku
Dari panasnya kehidupan duniawi ini
Engkaulah ayunanku
Ayunan yang selalu menimangku dengan hati
Engkau sosok pahlawanku
Pahlawan yang selalu melindungiku
Jika aku besar kelak
Aku akan terus menjagamu
Menjagamu tiada henti
Walau aku besar kelak
Aku tidak bias membahagiakanmu dengan materi
Tetapi, do’a selalu ku panjatkan untukmu
Walau engkau pergi untuk selama – lamanya
Aku akan selalu berdo’a untukmu
Supaya engkau bahagia di dunia ataupun di akhirat kelak.
***
Kemudian sang Ibu berlari menuju ke atas panggung dan memeluk erat anaknya dengan aliran air mata penyesalan. Karena, lantunan puisi itu membuat hati seorang ibu yang tadinya sangat membenci sosok anaknya yang ingin sekali menjadi penulis menjadi runtuh.
“Terima kasih, nak…” sang ibu berkata dengan tangisnya
“Ya…bu…” katanya
“Sekarang ibu akan membiarkanmu berkarya dan berkarya di dunia sastra” kata sang Ibu
Sang Anak kemudian bersorak dengan gembira, karena sang Ibu sudah merestuhi kalau dia boleh menulis lagi, dan dia bisa melanjutkan tulisannya lagi mempublikasikannya di kemudian.com.
Juni 19, 2008 pada 8:43 am
wow. Aq nangis baca nya. Apa mungkin karena sambil denger lagi Over the rainbow yg di nyanyiin Eva Cassidy? hahaha
ini cerita fiksi atau nyata ?