Posted by: alwafiridho on: Juni 24, 2008
Setelah mendapatkan restu dari sang Bunda sekarang dia bisa melanjutkan menulis ceritanya. Selang satu minggu, cerita yang dibuatpun selesai kemudian dia posting di kemudian.com.
Beberapa komentarpun datang dengan kritik dan saran yang menurut dia koemntar adalah pelajaran, tapi dia sakit hati karena banyak penulisan yang salah, dia tidak tahu siapa yang mau disalahkan.
“Ini semua karena aku, aku yang lalai dalam memperbaiki ceritaku” teriaknya
Dia tidak berlama – lama terpukul dengan itu, akhirnya dia memutuskan mencari teman yang sangat lihai dalam menulis di kemudian.com, nama temannya Yosi.
Setiap sore selalu chating berdua membahas tulisannya tersebut.
“Haloo…mbak…” Ronal
“Ya…dek…” Yosi
“Minta saran tentang cerpenku ini dong!” Ronal
“Keseluruhan aku suka dengan ceritamu itu, tapi masih bnyk yang kurang terutama dalam penulisan, masalah isi sudah bagus.” Yosi
“Lalu apa yang harus saya lakukan?” Ronal
“Oh, iya… nama kamu siapa dulu dek?” tanya Yosi
“Aku Ronal mbak.” Ronal
“Aku cuman ingin kamu sering membaca dan membaca, jangan cuman baca di kemudian.com, tapi kamu harus baca karya – karya penulis handal, seperti, Khairil Anwar, W.S. Rendra dll” Yosi
“Baik, mbak…” Ronal
Sejak dari itu dia mulai rajin membaca dan membaca selama dua bulan.
Karena rajin membaca banyak inspirasi yang muncul di dalam otaknya, dia menulis lagi setelah libur selama dua bulan.
Kali ini dia melanjutkan menulis Menggapai Cita – Cita sebelumnya.
Di balik semua hal tersebut ternyata sang Ayah tidak menyetujui anaknya sebagai penulis. Setiap kali ditanya kemana oleh Ayah, dia hanya berkata mau pergi ke rumah temannya, padahal dia sedang berada di warnet.
Suatu hari anak ini ketahuan oleh Ayah, karena sudah malam begini anak itu belum juga pulang. Ayahnya mencari dia kemana – mana dari temannya yang satu ke temannya yang lain. Tidak tahunya dia berada di warnet. Kemudian dia diseret pulang oleh sang Ayah.
“Kenapa kamu bohong terhadap Ayah…” bentak Ayahnya
“A—nu…Yah…” dengan nada ketakutan
“Anu…apa?” bentak Ayahnya lebih keras
“Kamu ini, kita sudah hidup pas-pasan, rumah mau roboh begini, uang tidak ada, kamu enak – enakan main ke warnet, lalu darimana uang itu?” cerocos sang Ayah.
Ronal hanya duduk terpaku di atas kursi yang sedikit kotor.
“Ayo…jawab…” bentak itu terdengar lagi
“Maaf…Yah…” Ronal merendah
Saat Ronal terpaku dengan takutnya sang Ayah mengambil ikat pinggangnya dan kemudian dicambuknya sang Anak sampai berdarah.
Hampir saja Ronal mau disiram menggunakan air mendidih, tapi sang Ibu kemudian datang dan mencegahnya.
“Pak, kenapa anak kita mau disiram ?” kata Ibu
“Mh…dia sudah bohong terhadap Ayahnya sendiri” kata Ayah
“Betul itu, Nak…” kata Ibu sedih
Ronal hanya tertunduk menangis, menangis karena kebohongannya dan menangis karena sakitnya.
“Maafin…aku Bu…maafin aku Pak…” dangan bercucuran air matanya Ronal berkata
“Sudah…Nak…” sang Ibu mengelus rambut anaknya dengan kasih sayang.
“Jangan kasihani dia Bu, dia anak bajingan” bentak ayahnya lantang
“Sudah ayah, sudah…” bentak sang Ibu
“Akh… awas kamu…” Ayah menampar Ibu
kemudian Ronal bangun.
“Yah, kalau mau pukul Ibu, mendingan kamu pukul aku saja” Ronal dengan lantangnya.
“Sudah, Nak… ayo masuk…” Ibu dan anak memasuki kamar.
Ayah kemudian duduk di kursi menenangkan dirinya.
Komentar Terakhir
Kelas Biologi